Rintihan Hati

Rabb. . .
Hamba datang kepada-mu dengan dosa dan kemaksiatan yang sungguh malu hamba 'tuk mengatakannya,,

Rabb. . .
Hamba datang kepada-Mu dengan pengetahuan bahwa Engkau Maha Mengampuni dan selalu mengampuni,,

Rabb. . .
Hamba juga datang kepada-Mu dengan persoalan hidup yang menjadikan hidupku demikian sempit dan susah,,Persoalan hidup yang muncul karena aku hidup tanpa Rahmat-Mu,,dan jauh dari diri-Mu,,Hamba pasrahkan semua persoalan itu kepada-Mu,,

Rabb. . .
Jangan biarkan hamba-Mu ini berjalan lagi dalam kegelapan,,tanpa petunjuk-Mu,,tanpa bantuan dari-Mu,,dan hamba memohon kepada-Mu,,agar jangan mengembalikan lagi hamba kepada kesesatan setelah rasa rindu dan sesal datang,,

Rabb. . .
Hamba mohonkan kebaikan dunia dan akhirat buat diri ini,,dan buat segenap orang-orang yang hamba kasihi,,orang tua hamba,,saudara-saudara hamba,,,,guru-guru hamba,,dan teman-teman seperjuangan hamba...

Cinta tak perlu dilafalkan,,

Cinta yang agung itu adalah satu pengorbanan, tak ramai yang sanggup berkorban kepada orang yang dia cintai…

Pernah aku membaca suatu cerita sepasang suami istri,,suami yang tak pernah menerangkan mengapa dia mencintai,,hingga suatu saat istrinya memintanya untuk menerangkan mengapa dia mencintai,,dia tak menginginkan bukti saja dari suaminya,,dia ingin suaminya menerangkan kepadanya sebabnya,,
Dalam situasi terpojok sang suami akhirnya menerangkan pada istrinya sebab ia mencintai,,dia mencintai sebab cantik,,mempunyai suara yang merdu,,penyayang dan suka menasehati,,
Si isteri tersenyum dan berpuas hati dengan penerangan suaminya tadi,,Namun begitu selang beberapa hari si isteri mengalami kemalangan koma,,

Si suami amat bersedih dan menulis sepucuk surat kepada isterinya yang disayangi,,Surat itu diletakkan di sebelah katil isterinya di hospital,,

Surat tersebut berbunyi begini:

‘Sayang! Jika disebabkan suara aku mencintaimu. .. sekarang bolehkah engkau bersuara? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu.
Jika disebabkan kasih sayang dan ingatan aku mencintaimu. .. sekarang bolehkah engkau menunjukkannya? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintaimu.
Jika disebabkan senyumanmu, aku mencintaimu. .. sekarang bolehkah engkau tersenyum? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintaimu. .
Jika disebabkan setiap langkah aku mencintaimu. … sekarang bolehkah engkau melangkah? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintaimu. .
Jika cinta memerlukan sebabnya, seperti sekarang.. Aku tidak mempunyai sebab mencintaimu lagi..

Adakah cinta memerlukan sebab? Tidak!
Aku masih mencintaimu dulu, kini, selamanya dan cinta tidak perlu ada sebab,,Kadangkala perkara tercantik dan terbaik di dunia tidak boleh dilihat, dipegang.. Namun begitu… ia boleh dirasai dalam hati.’

Inilah makna cinta.


L.U.P.H By

Karakter Menurut Golongan Darah

16.57 by HAMBA ALLAH 0 komentar

Ternyata karakter seseorang bisa di lihat dari golongan darahnya lho. . .
Inilah beberapa hal menebak atau memperkirakan karakter kita dilihat dari golongan darahnya (berdasar urutan):

Paling gampang ngaret soal waktu:
Nomer 1 : B (karena nyantai terus)
Nomer 2 : O (kaena flamboyan)
Nomer 3 : AB (karena gampang ganti program)
Nomer 4 : A (karena gagal dalam disiplin)

Paling susah mentolerir kesalahan orang:
Nomer 1 : A (karena perfeksionis dan narsisnya terlalu besar)
Nomer 2 : B (karena easy going tapi juga easy judging)
Nomer 3 : AB (karena asal beda)
Nomer 4 : O (easy judging tapi juga easy pardoning)

Paling bisa dipercaya:
Nomer 1: A (karena konsisten dan taat hukum)
Nomer 2: O (demi menjaga balance)
Nomer 3: B (demi menjaga kenikmatan hidup)
Nomer 4: AB (mudah ganti frame of reference)

Paling disukai untuk jadi teman:
Nomer 1: O (orangnya sportif)
Nomer 2: A (selalu on time dan persis)
Nomer 3: AB (kreatif)
Nomer 4: B (tergantung mood)

Teman yang paling disebelin/tidak disukai:
Nomer 1: B (egois, easy come easy go, maunya sendiri)
Nomer 2: AB (double standard)
Nomer 3: A (terlalu taat dan scrupulous)
Nomer 4: O (sulit mengalah)

MENYANGKUT OTAK DAN KEMAMPUAN

Paling mudah kesasar/tersesat:
Nomer 1: B
Nomer 2: A
Nomer 3: O
Nomer 4: AB

Paling banyak meraih medali di olimpiade olah raga:
Nomer 1: O (jago olah raga)
Nomer 2: A (persis dan matematis)
Nomer 3: B (tak terpengaruh pressure dari sekitar hampir seluruh atlet judo, renang dan gulat jepang bergoldar B)
Nomer 4: AB (alergi pada setiap jenis olah raga)

Paling banyak jadi direktur dan pemimpin
Nomer 1: O (karena berjiwa leadership dan problem-solver)
Nomer 2: A (karena berpribadi “minute” dan teliti)
Nomer 3: B (karena sensitif dan mudah ambil keputusan)
Nomer 4: AB (karena kreatif dan suka ambil resiko)

Yang jadi PM jepang rata2 bergolongan darah O (berjiwa pemimpin)
Mahasiswa Tokyo Univ pada umumnya bergol darah : B

Paling gampang nabung :
Nomer 1: A (suka menghitung bunga bank)
Nomer 2: O (suka melihat prospek)
Nomer 3: AB (menabung karena punya proyek)
Nomer 4: B (baru menabung kalau punya uang banyak)

Paling kuat ingatannya:
Nomer 1: O
Nomer 2: AB
Nomer 3: A
Nomer 4: B

Paling cocok jadi MC :
NOmer 1: A (kayak planner berjalan)

MENYANGKUT KESEHATAN

Paling panjang umur :
Nomer 1: O (gak gampang stress, antibodynya paling joss!)
Nomer 2: A (hidup teratur)
Nomer 3: B (mudah cari kompensasi stress)
Nomer 4: AB (amburadul)

Paling gampang gendut
Nomer 1: O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
Nomer 2: B (makannya lama, nambah terus, dan lagi suka makanan enak)
Nomer 3: A (hanya makan apa yg ada di piring, terpengaruh program diet)
Nomer 4: AB (Makan tergantung mood, mudah kena anoressia)

Paling gampang digigit nyamuk : O (darahnya manis)

Paling gampang flu/demam/batuk/ pilek:
Nomer 1: A (lemah terhadap virus dan pernyakit menular)
Nomer 2: AB (lemah thd hygiene)
Nomer 3: O (makan apa saja enak atau nggak enak)
Nomer 4: B (makan, tidur nggak teratur)

Apa yang dibuat pada acara makan2 di sebuah pesta :
Golongan darah O (banyak ngambil protein hewani, pokoknya daging2an)
Golongan darah A (ngambil yg berimbang. 4 sehat 5 sempurna)
Golongan darah B (suka ambil makanan yg banyak kandungan airnya sptsoup, soto, bakso dsb)
Golongan darah AB (hobby mencicipi semua masakan, “aji mumpung”)

Paling cepat botak :
Nomer 1: O
Nomer 2: B
Nomer 3: A
Nomer 4: AB

Tidurnya paling nyenyak dan susah dibangunin :
Nomer 1: B (tetap mendengkur meski ada Tsunami)
Nomer 2: AB (jika lagi mood, sleeping is everything)
Nomer 3: A (tidur harus 8 jam sehari, sesuai hukum)
Nomer 4: O (baru tidur kalau benar2 capek dan membutuhkan)

Paling cepet tertidur:
Nomer 1: B (paling mudah ngantuk, bahkan sambil berdiripunbisa tertidur)
Nomer 2: O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah kenngantuk)
Nomer 3: AB (tergantung kehendak)
Nomer 4: A (tergantung aturan dan orario)

Penyakit yg mudah menyerang :
Golongan darah A: (stress, majenun/linglung)
Golongan darah B: (lemah terhadap virus influenza, paru-paru)
Golongan darah O: (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit perut)
Golongan darah AB: (kanker dan serangan jantung, mudah kaget)

Apa yang perlu dianjurkan agar tetap sehat :
Golongan darah A: (Karena terlalu perfeksionis maka nyantailahsekali-kali, gak usah terlalu tegang dan serius)
Golongan darah B: (Karena terlalu susah berkonsentrasi, sekali-kaliperlu serius sedikit, meditasi, main catur)
Golongan darah O: (Karena daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga mengobrol santai, jalan-jalan)
Golongan darah AB: (Karena gampang capek, maka perlu cari kegiatan yang menyenangkan dan bikin lega).

Yang paling sering kecelakaan lalu lintas (berdasarkan data kepolisian)1:A 2:B 3:O 4:AB

That’s it. tapi…. yakin semua lebih pada sifat relatif. How about you?


^_^

Menjadi Wanita Muslimah

16.25 by HAMBA ALLAH 2 komentar

Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah

Penyusun: Ummu Uwais dan Ummu Aiman
Muraja’ah: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc.



Wahai saudariku muslimah, wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.

Maka, engkaulah wahai saudariku… engkaulah pengemban amanah pembangun generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya.


Wanita Berbeda Dengan Laki-Laki

Allah berfirman,

وَمَاخَلَقْتُ الجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Adz-Dzaariyat: 56)

Allah telah menciptakan manusia dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan pria dan wanita pada kedudukannya masing-masing sesuai dengan kodratnya. Dalam beberapa hal, sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.

Keduanya memiliki kedudukan yang sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang tidak berbeda. Hanya dalam masalah-masalah tertentu, memang ada perbedaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, tabiat, dan kondisi masing-masing.

Allah mentakdirkan bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, postur tubuh, dan susunan anggota badan.

Allah berfirman,

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى

“Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)

Karena perbedaan ini, maka Allah mengkhususkan beberapa hukum syar’i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki, diantaranya bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan, laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan, dan lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta merawat suami dan anak-anaknya.

Mujahid meriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa kaum laki-laki bisa pergi ke medan perang sedang kami tidak, dan kamipun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki?” Maka turunlah ayat yang artinya, “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah…” (Qs. An-Nisaa’: 32)” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lain sebagainya)

Saudariku, maka hendaklah kita mengimani apa yang Allah takdirkan, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Yakinlah, di balik perbedaan ini ada hikmah yang sangat besar, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.


Mari Menjaga Kehormatan Dengan Berhijab

Berhijab merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap wanita muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk pemuliaan terhadap wanita yang telah disyariatkan dalam Islam. Dalam mengenakan hijab syar’i haruslah menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ

“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.” (Qs. An-Nuur: 31)

Mengenakan hijab syar’i merupakan amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita mukminah dari kalangan sahabiah dan generasi setelahnya. Merupakan keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam untuk meneladani jejak wanita-wanita muslimah pendahulu meraka dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam masalah berhijab. Hijab merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang berhiaskan malu dan kecemburuan (ghirah). Ironisnya, banyak wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam keluar di jalan-jalan dan tempat-tempat umum tanpa mengenakan hijab, tetapi malah bersolek dan bertabaruj tanpa rasa malu. Sampai-sampai sulit dibedakan mana wanita muslim dan mana wanita kafir, sekalipun ada yang memakai kerudung, akan tetapi kerudung tersebut tak ubahnya hanyalah seperti hiasan penutup kepala.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Semoga Alloh merahmati para wanita generasi pertama yang berhijrah, ketika turun ayat:

“dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya,” (Qs. An-Nuur: 31)

“Maka mereka segera merobek kain panjang/baju mantel mereka untuk kemudian menggunakannya sebagai khimar penutup tubuh bagian atas mereka.”

Subhanallah… jauh sekali keadaan wanita di zaman ini dengan keadaan wanita zaman sahabiah.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa hijab merupakan kewajiban atas diri seorang muslimah dan meninggalkannya menyebabkan dosa yang membinasakan dan mendatangkan dosa-dosa yang lainnya. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya wanita mukminah bersegera melaksanakan perintah Alloh yang satu ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah patut bagi mukmin dan tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)


Mengenakan hijab syar’i mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:

  1. Menjaga kehormatan.
  2. Membersihkan hati.
  3. Melahirkan akhlaq yang mulia.
  4. Tanda kesucian.
  5. Menjaga rasa malu.
  6. Mencegah dari keinginan dan hasrat syaithoniah.
  7. Menjaga ghirah.
  8. Dan lain-lain. Adapun untuk rincian tentang hijab dapat dilihat pada artikel-artikel sebelumnya.

Kembalilah ke Rumahmu

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu.” (Qs. Al-Ahzab: 33)

Islam telah memuliakan kaum wanita dengan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dalam rumahnya. Ini merupakan ketentuan yang telah Allah syari’atkan. Oleh karena itu, Allah membebaskan kaum wanita dari beberapa kewajiban syari’at yang di lain sisi diwajibkan kepada kaum laki-laki, diantaranya:

  1. Digugurkan baginya kewajiban menghadiri shalat jum’at dan shalat jama’ah.
  2. Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi wanita disyaratkan dengan mahram yang menyertainya.
  3. Wanita tidak berkewajiban berjihad.

Sedangkan keluarnya mereka dari rumah adalah rukhshah (keringanan) yang diberikan karena kebutuhan dan darurat. Maka, hendaklah wanita muslimah tidak sering-sering keluar rumah, apalagi dengan berhias atau memakai wangi-wangian sebagaimana halnya kebiasaan wanita-wanita jahiliyah.

Perintah untuk tetap berada di rumah merupakan hijab bagi kaum wanita dari menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram dan dari ihtilat. Apabila wanita menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram maka ia wajib mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Dengan menjaga hal ini, maka akan terwujud berbagai tujuan syari’at, yaitu:

  1. Terpeliharanya apa yang menjadi tuntunan fitrah dan kondisi manusia berupa pembagian yang adil diantara hamba-hamba-Nya yaitu kaum wanita memegang urusan rumah tangga sedangkan laki-laki menangani pekerjaan di luar rumah.
  2. Terpeliharanya tujuan syari’at bahwa masyarakat islami adalah masyarakat yang tidak bercampur baur. Kaum wanita memiliki komunitas khusus yaitu di dalam rumah sedang kaum laki-laki memiliki komunitas tersendiri, yaitu di luar rumah.
  3. Memfokuskan kaum wanita untuk melaksanakan kewajibannya dalam rumah tangga dan mendidik generasi mendatang.

Islam adalah agama fitrah, dimana kemaslahatan umum seiring dengan fitrah manusia dan kebahagiaannya. Jadi, Islam tidak memperbolehkan bagi kaum wanita untuk bekerja kecuali sesuai dengan fitrah, tabiat, dan sifat kewanitaannya. Sebab, seorang perempuan adalah seorang istri yang mengemban tugas mengandung, melahirkan, menyusui, mengurus rumah, merawat anak, mendidik generasi umat di madrasah mereka yang pertama, yaitu: ‘Rumah’.


Bahaya Tabarruj Model Jahiliyah

Bersolek merupakan fitrah bagi wanita pada umumnya. Jika bersolek di depan suami, orang tua atau teman-teman sesama wanita maka hal ini tidak mengapa. Namun, wanita sekarang umumnya bersolek dan menampakkan sebagian anggota tubuh serta perhiasan di tempat-tempat umum. Padahal di tempat-tempat umum banyak terdapat laki-laki non mahram yang akan memperhatikan mereka dan keindahan yang ditampakkannya. Seperti itulah yang disebut dengan tabarruj model jahiliyah.

Di zaman sekarang, tabarruj model ini merupakan hal yang sudah dianggap biasa, padahal Allah dan Rasul-Nya mengharamkan yang demikian.

Allah berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah).” (Qs. Al-Ahzab: 33)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Bentuk-bentuk tabarruj model jahiliyah diantaranya:

  1. Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki non mahram.
  2. Menampakkan perhiasannya,baik semua atau sebagian.
  3. Berjalan dengan dibuat-buat.
  4. Mendayu-dayu dalam berbicara terhadap laki-laki non mahram.
  5. Menghentak-hentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang tersembunyi.

Pernikahan, Mahkota Kaum Wanita

Menikah merupakan sunnah para Nabi dan Rasul serta jalan hidup orang-orang mukmin. Menikah merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nuur: 32)

Pernikahan merupakan sarana untuk menjaga kesucian dan kehormatan baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu, menikah dapat menentramkan hati dan mencegah diri dari dosa (zina). Hendaknya menikah diniatkan karena mengikuti sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjaga agama serta kehormatannya.

Tidak sepantasnya bagi wanita mukminah bercita-cita untuk hidup membujang. Membujang dapat menyebabkan hati senantiasa gelisah, terjerumus dalam banyak dosa, dan menyebabkan terjatuh dalam kehinaan.

Kemaslahatan-kemaslahatan pernikahan:

  1. Menjaga keturunan dan kelangsungan hidup manusia.
  2. Menjaga kehormatan dan kesucian diri.
  3. Memberikan ketentraman bagi dua insan. Ada yang dilindungi dan melindungi. Serta memunculkan kasih sayang bagi keduanya.

Demikianlah beberapa perkara yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah agar dirinya tidak terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan dan tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa dan kemaksiatan. Allahu A’lam.

Referensi:
Menjaga Kehormatan Muslimah, Syaikh Bakar Abu Zaid.

Amalan Utama

16.22 by HAMBA ALLAH 0 komentar
KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN
PAHALANYA
Oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Di Antara Fadhilah (Keutamaan) Berbakti Kepada Kedua
Orang Tua.
Pertama
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang
paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disepakati
oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

"Artinya : Dari Abdullah bin Mas'ud katanya, "Aku
bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah
? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, Pertama
shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan
shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua
orang tua, ketiga jihad di jalan Allah" [Hadits
Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan
amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul
walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Kedua
Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang
tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam
Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan.

"Artinya : Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu
'anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda, "Ridla Allah tergantung kepada
keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada
kemurkaan orang tua" [Hadits Riwayat Bukhari dalam
Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-),
Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Ketiga
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat
menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu
dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut.
Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dari Ibnu Umar.
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu
kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki
sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya,
tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu
gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, 'Ingatlah
amal terbaik yang pernah kamu lakukan'. Kemudian
mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui
amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan
kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka
berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua
orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku
mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku
mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu
memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku
sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh
untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga
pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang
tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu
sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang
lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih
tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis
untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya.
Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum
susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang
tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun.
Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu
ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu
kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya
perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau
ya Allah, bukakanlah. "Maka batu yang menutupi pintu
gua itupun bergeser" [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul
Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab
Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi
Shalihil A'mal]

Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua
orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan
untuk bertawassul kepada Allah ketika kita mengalami
kesulitan, Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang.
Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini
diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua
orang tuanya.

Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua
kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan
'Si Anak' yang 'bergadang' untuk memerah susu tersebut
belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika
mengurusnya sewaktu kecil.

'Si Anak' melakukan pekerjaan tersebut tiap hari
dengan tidak ada perasaan bosan dan lelah atau yang
lainnya. Bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tidur,
dia rela menunggu keduanya bangun di pagi hari
meskipun anaknya menangis. Ini menunjukkan bahwa
kebutuhan kedua orang tua harus didahulukan daripada
kebutuhan anak kita sendiri dalam rangka berbakti
kepada kedua orang tua. Bahkan dalam riwayat yang lain
disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan
dari pada berbuat baik kepada istri sebagaimana
diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu
'anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin
Khaththab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
"Ceraikan istrimuu" [Hadits Riwayat Abu Dawud No.
5138, Tirimidzi No. 1189 beliau berkata, "Hadits Hasan
Shahih"]

Dalam riwayat Abdullah bin Mas'ud yang disampaikan
sebelumnya disebutkan bahwa berbakti kepada kedua
orang tua harus didahulukan daripada jihad di jalan
Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Begitu besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga
apapun yang kita lakukan untuk berbakti kepada kedua
orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. Di
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar
Radhiyallahu 'anhuma melihat seorang menggendong
ibunya untuk tawaf di Ka'bah dan ke mana saja 'Si Ibu'
menginginkan, orang tersebut bertanya kepada, "Wahai
Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku
sudah membalas jasa ibuku.?" Jawab Abdullah bin Umar
Radhiyallahu 'anhuma, "Belum, setetespun engkau belum
dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu" [Shahih Al
Adabul Mufrad No.9]

Orang tua kita telah megurusi kita mulai dari
kandungan dengan beban yang dirasakannya sangat berat
dan susah payah. Demikian juga ketika melahirkan, ibu
kita mempertaruhkan jiwanya antara hidup dan mati.
Ketika kita lahir, ibu lah yang menyusui kita kemudian
membersihkan kotoran kita. Semuanya dilakukan oleh ibu
kita, bukan oleh orang lain. Ibu kita selalu menemani
ketika kita terjaga dan menangis baik di pagi, siang
atau malam hari. Apabila kita sakit tidak ada yang
bisa menangis kecuali ibu kita. Sementara bapak kita
juga berusaha agar kita segera sembuh dengan membawa
ke dokter atau yang lain. Sehingga kalau ditawarkan
antara hidup dan mati, ibu kita akan memilih mati agar
kita tetap hidup. Itulah jasa seorang ibu terhadap
anaknya.

Keempat
Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan
rizki dan dipanjangkan umur. Sebagaimana dalam hadits
yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat
Anas Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya
dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung
tali silaturahmi" [Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim
2557, Abu Dawud 1693]

Dalam ayat-ayat Al-Qur'an atau hadits-hadits Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dianjurkan untuk
menyambung tali silaturahmi. Dalam silaturahmi, yang
harus didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua
sebelum kepada yang lain. Banyak diantara
saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada
teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri
jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil
dia selalu bersama ibu dan bapaknya. Tapi setelah
dewasa, seakan-akan dia tidak pernah berkumpul bahkan
tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit apapun
harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada
kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya
insya Allah akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan
umur. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa
dengan silaturahmi akan diakhirkannya ajal dan umur
seseorang.[1] walaupun masih terdapat perbedaan
dikalangan para ulama tentang masalah ini, namun
pendapat yang lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir
hadits ini bahwa umurnya memang benar-benar akan
dipanjangkan.

Kelima
Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu
akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan
masuk surga. Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu
anak yang berbuat baik kepada kedua orang tua akan
dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke jannah
(surga).

Dosa-dosa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala segerakan
adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim
dan durhaka kepada kedua orang tua. Dengan demikian
jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang
tuanya, Allah Subahanahu wa Ta'ala akan
menghindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan izin
Allah.


[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia
Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin
Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta.]
_________
Foote Note.

[1] Riyadlush Shalihin, hadits No. 319
http://www.myquran.org/forum/archive/index.php/t-7266.html
WANITA PENGHUNI NERAKA

“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu 'anhum :

“ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?” Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :

“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)

Saudariku Muslimah … .

Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga.

Saudariku Muslimah … . Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :

1. Durhaka dengan ucapan.

2. Durhaka dengan perbuatan.

3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.

Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.

Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah subhanahu wa ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i, pent.) maka haram baginya wangi Surga.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 85)

Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang semisal dengan itu.

Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.

Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat, atau puasa Ramadlan.

Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya. (Dinukil dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman 23-25 dengan beberapa tambahan)

Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.

Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.

Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.

Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.

3. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil Muslimah halaman 120)

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .” (Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )

Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya :

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman 131 : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”

Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.

Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.

Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

Wahai saudariku Muslimah … . Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)

Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.

Saudariku Muslimah … .

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda :

“Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)

Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya. Amin.

Wallahu A’lam bish Shawwab.